Catatan BJ Habibie Soal Akhirat yang Bikin Merinding

PRESIDEN ke-tiga RI BJ Habibie meninggal dunia pada Selasa (11/9/2019). Semasa hidupnya pria asal asal Pare-Pare ini suka menulis, termasuk mencatat isi hatinya.

Di antara semua yang ditulis BJ Habibie, ada satu catatannya yang bikin merinding. Catatan tersebut terkait akhirat, membuat pembacanya merinding. Berikut potongan catatan tersebut seperti dilansir dari Alhikmah 1:

Baca Juga : BAMSOET TANGGAPI PERNYATAAN JK SETUJU BEBERAPA POIN REVISI UU KPK

“Sepi penghuni…

Istri sudah meninggal…

Tangan menggigil karena lemah…

Penyakit menggerogoti sejak lama…

Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman… Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu…

Tiga anak, semuanya sukses… berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri…

Ada yang sekarang berkarir di luar negeri…

Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi…

Dan ada pula yang jadi pengusaha …

Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya…

Namun….

Saat tua seperti ini dia “merasa hampa”, ada “pilu mendesak” di sudut hatinya..

Tidur tak nyaman…

Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yg penuh kenangan

Di rumah yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur…

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya….

Dari sudut mata ada air yang menetes.. rindu dikunjungi anak-anak nya

Tapi semua anak nya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain…

Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan….

Sudah terlanjur melemah…”

Pada catatan selanjutnya, BJ Habibie bercerita bahwa yang pasti adalah kematian. Berikut sambungannya:

Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak…

sepanjang waktu ….

Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya… atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti_

Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti…

yang pasti hanyalah KEMATIAN.

Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya…_

Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC…

Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang…_

Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?

Kira-kira jika malaikat “datang menjemput”, akan seperti apakah kematian nya nanti.

Siapa yang akan memandikan ?

Dimana akan dikuburkan ??

Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?

Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula…

Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???

Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???

Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama??? Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja…_