Dedi Mulyadi Awasi Mediasi Masalah Anak Tuntut Ibu Kandung di PN Bandung

Dedi Mulyadi Awasi Mediasi Masalah Anak Tuntut Ibu Kandung di PN Bandung

                    BANDUNG, Akan calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memonitor sistem persidangan Cicih (78), warga Jalan Embah Jaksa, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, yang digugat empat anak kandungnya dikarenakan jual warisan almarhum suaminya yang sudah dihibahkan padanya.

Dedi mengharapkan ada titik temu pada sistem persidangan di Pengadilan Negeri Bandung yang sudah masuk jalur mediasi pada penggugat serta tergugat.

“Saya lihat bila hari ini tak ada titik temu, saya juga akan jumpai pihak keluarga penggugat untuk diskusi mencari titik temu yang rasional, ” kata Dedi di PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (6/3/2018).

Selanjutnya Dedi memberikan, sistem persidangan di pastikan menyiksa batin serta fikiran Cicih yang usianya telah renta. Karenanya, Dedi mengakui juga akan mengawal masalah itu sampai selesai lewat cara lakukan negosiasi pada pihak penggugat.

“Kalau diketemukan ada angka nilainya demikian, dari pada menyiksa batin ibunya, saya juga akan mengajak beragam pihak untuk menolong. Saya percaya akan usai karna banyak yang mempunyai empati, ” katanya.

Dedi menyebutkan, penyelesaian masalah anak tuntut ibunya tidaklah perlu bertele-tele sekali lagi. Dengan memohon pertolongan dari beragam pihak, dia berjanji juga akan membayar kerugian penggugat dengan nilai rasional.

“Tinggal kalkulasi saja bagian segi waris berapakah yang dibagi. Yang perlu kalkulasi saja dahulu objeknya. Dari pada sidang-sidang selalu, kasihan ibunya. Saya akan tidak kasih gratis, tapi tetaplah mesti rasional, ” katanya.

Dikabarkan terlebih dulu, Cicih (78), warga Jalan Embah Jaksa, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, digugat empat anak kandungnya dikarenakan jual warisan almarhum suaminya yang sudah dihibahkan padanya.

Ke-4 anak itu yaitu Ai Sukmawati, Dede Rohayati, Ayi Rusbandi, serta AI Komariah. Mengenai keseluruhan tuntutan terdiri atas tuntutan materil Rp 670 juta yang terbagi dalam harga bangunan sejumlah Rp 250 juta serta harga tanah Rp 5 juta per mtr..

Untuk imateril, berbentuk kehilangan hak subjektif yakni hak atas harta kekayaan, kehilangan kepastian hukum, serta kehormatan di orang-orang, yang dinominalkan sebesar Rp 1 miliar. Tuntutan itu terdaftar dalam Perkara Perdata Nomor : 18/PDT. G/2018/PN BDG.

Baca Juga : Henry Yoso Minta Bandar Narkoba Ditembak Mati Tanpa ada Sistem Hukum

Kuasa Hukum Ibu Cici, Hotma Agus Sihombing menerangkan, sebelumnya wafat, almarhum suami Cicih, S Udin telah membagikan harta pada anaknya.

Harta itu berbentuk tanah serta bangunan di Jalan Embah Jaksa, No19 RT 01 RW 01, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Lalu tanah serta kebun di Cilengkrang, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, serta sawah di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Anak-anaknya itu diwarisi luas tanah dengan ukuran berlainan.

Ai Sukmawati sendiri memperoleh sebidang tanah serta bangunan luas 1. 070 m2, tanah serta kebun seluas 20 tumbak, serta sawah seluas 50 tumbak.

Untuk Dede Rohayati tanah serta Bangunan seluas 116, 6 m2, tanah serta kebun seluas 116, 6 m2, tanah serta kebun seluas 116, 6 m2, serta sawah 50 tumbak.

Untuk Ayi Rusbandi, memperoleh tanah serta bangunan seluas 342 m2 serta sawah 57 tumbak. Sesaat Ai Komariah, memperoleh tanah serta bangunan seluas 222, 58 m2 serta sawah 50 tumbak.

” Nah sesudah diberi ke anaknya, tempat tinggal yang dihuni ibunya dihibahkan juga suaminya ke istrinya (Cicih), ” tuturnya waktu dihubungi, Selasa (20/2/2018).

Sesaat Cicih memperoleh hibah dari almarhum suaminya berbentuk tanah serta bangunan seluas 332 m2. Dalam akta hibah itu diterangkan, saat Cicih wafat jadi harta itu diberi pada anaknya, Alit (ikut jadi tergugat).

Hotma mengungkap, sepanjang ditinggalkan suaminya, Cicih tidak mempunyai pekerjaan serta pendapatan untuk menyambung hidupnya.

Sesaat anak-anaknya tidak sempat menengok atau memerhatikan ibunya. Sedang Cicih mesti membiayai sekolah anak-anak yang menuntutnya itu.

Cicih juga sangat terpaksa mengutang pada tetangganya, yang seiring berjalannya waktu utang itu makin membengkak. Bahkan juga Cicih sangat terpaksa jual 91 mtr. persegi tanah dari 332 mtr. persegi hibah dari suaminya pada orang yang lain dengan harga Rp 250 juta.

” Hingga hari ini masih tetap ada anaknya penggugat dibiayai serta hidup dengan Bu Cicih. Bu Cicih gak miliki uang. Ada sisa serta terasa ada hibah dari suaminya yang didapatkan kepadanya untuk menjaga hidupnya karna gak diberi anaknya. Bahkan juga Bu Cicih berutang ke tetangga untuk sambung hidup, ” tuturnya.

Menurut dia, uang hasil penjualan tanah punya Cicih itu tidak cuma untuk melunasi utang, namun juga untuk membuat satu kos-kosan anaknya serta cost rehab tempat tinggal satu diantara anaknya.

” Ada tempat tinggal punya penggugat dibangunkan oleh Bu Cicih, direhab untuk kos-kosan. Uang itu tidak dikonsumsi habis Bu Cicih. Atau untuk membiayai cucunya yang anaknya penggugat membiayai bu cicih. Bahkan juga Anak-anaknya penggugat hidup serumah, ” tuturnya.

Tetapi pengorbanannya ini memperoleh respon negatif dari anak-anaknya. Cicih dituding jual tanpa ada sepengetahuan mereka serta menuntutnya.

” Dasarnya gini, kok tega-teganya anak kandung tuntut ibu. Memanglah negara kita telah sakit, memangnya orang-orang tidak ada jalan beda, ” tuturnya.

Agus menjelaskan, sidang siang barusan beragenda mediasi. Beberapa penggugat juga akan mencabut laporannya dengan sebagian prasyarat kesepakatan.

” Barusan mediasi. Saran mereka (penggugat) minta batalkan kesepakatan jual beli dengan harga Rp 910 juta, karna menurut versus penggugat semeter Rp 10 juta. Kenyataannya ngarang harga market Rp 3 juta per mtr.. Jual beli tidak Rp 250 juta. Sesaat yang Rp 138 juta habis digunakan membuat kos-kosan, ” tuturnya.

Disamping itu, Kuasa Hukum Penggugat Tina Yulianti Gunawan memohon supaya tidak lihat masalah itu dari pojok pandang tuntutan yang dikerjakan anak pada ibunya. Tetapi lihatlah dari perbuatan yang dikerjakan tergugat (Cicih).

” Dasarnya janganlah diliat dari seseorang anak yang memajukan tuntutan pada ibunya tapi tindakannya. Tapi saat ini dalam tempat step mediasi, semoga ada titik temu, ” tuturnya.

Saat disinggung perbuatan yang disebut dalam masalah itu, Tina menjawab, tergugat Cicih jual warisan tanpa ada sepengetahuan pakar waris. ” Ada warisan yang di jual tanpa ada kesepakatan pakar waris beda, ” tutupnya.

Support by : kompas.com