Gerindra: Sebagian Besar Negara Maju Tak Larang Isolasi Mandiri

Agen Judi Online – Partai Gerindra memandang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan maksud baik berkaitan PSBB ketat. Tetapi, Gerindra minta penerapan PSBB Jakarta ketat harus optimal.

“Arti dari cerita rem genting Pak Anies pasti baik yaitu supaya ada dampak kejut buat warga tidak untuk meremehkan bahaya COVID-19,” kata jubir Gerindra Habiburokhman pada wartawan, Senin (14/9/2020).

“Akan tetapi yang penting ialah penerapan betul-betul harus optimal serta evaluatif sampai detilingnya,” sambungnya.

Habiburokhman menjelaskan sekarang ini kebijaksanaan dengan menghapus ganjil genap telah baik. Tetapi, catatan lain, ia minta Anies untuk membahas berkaitan larangan karantina mandiri di dalam rumah.

“Pak Anies telah bagus hentikan ganjil genap sebab berdasarkan penilaian kebijaksanaan itu malah tingkatkan jumlah pasien,” katanya.

Habiburokhman menyebutkan tidak ada negara maju yang lakukan kebijaksanaan itu. Menurut dia, kebijaksanaan itu justru akan memberatkan tenaga medis yang akan kerepotan.

Baca Juga : PSG Vs Marseille Panas, Angel Di Maria Juga Dituduh Ludahi Lawan

“Sekarang ini yang penting kita perhatikan ialah masalah OTG yang dilarang karantina mandiri. Beberapa negara maju tidak mengaplikasikan kebijaksanaan itu sebab akan mengisap SDM nakes yang mengagumkan besar serta pada akhirnya sulit mengatasi pasien yang dengan tanda-tanda serius. Hal-hal lain pantas diperhitungkan ialah orang malah tidak berani lakukan tes sebab takut diminta isolasi di RS,” katanya.

Ia memperingatkan supaya Anies terus menilai kebijaksanaan yang diambil. Habiburokhman menjelaskan janganlah sampai rem genting jadi rem blong.

“Tetapi kami percaya Pak Anies tetap akan terima input daru warga, janganlah sampai rem genting jadi rem blong,” katanya.

Awalnya, Menko Polhukam Mahfud Md mulai bicara masalah asumsi anjloknya Indeks Harga Saham Kombinasi (IHSG) berasal dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang memberitahukan PSBB kembali pada step awal. Mahfud memandang tidak ada yang keliru dari informasi itu serta itu sekedar hanya tata kata.

“Sebetulnya hanya kata arti PSBB keseluruhan seolah-olah baru serta dengan cara ekonomi mengagetkan. Menurut beberapa pakar, tempo hari itu cuma beberapa saat pagi-pagi jam 11.00 negara telah rugi Rp 300 triliun atau Rp 297 triliun cuma sesaat sebab informasi itu, walau sebenarnya itu kan perkembangan kebijaksanaan, wong awalnya PSBB menjelaskan bioskop akan dibuka, lokasi hiburan, dan sebagainya kan cuma semacam itu, hanya ini sebab ini tata kata, bukan tata negara,” kata Mahfud dalam dialog daring Barisan Studi Demokrasi Indonesia (KSDI) bertopik ‘Evaluasi 6 Bulan serta Prediksi 1 Tahun Perlakuan COVID-19 di Indonesia’, Sabtu (12/9/2020).