Ini yang Bikin Jokowi Buka-bukaan Tanggapi Isu PKI

 

JAKARTA — Wakil Ketua Team Kampanye Nasional Pasangan Joko Widodo-Maruf Amin, Arsul Sani, bercerita cerita dibalik buka-bukaan capres nomer urut 01 Joko Widodo masalah rumor yang mengatakan jika ia ialah anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Arsul menjelaskan, Jokowi sebetulnya tidak ingin menyikapi rumor itu.

“Saya lihat Pak Jokowi sebelumnya tidak ingin menanggapi masalah itu karenanya kan permasalahan yang difitnahkan dalam Pemilihan presiden 2014 lewat Obor Rakyat,” tutur Arsul pada Kompas.com, Senin (5/11/2018).

Arsul menjelaskan, aktor fitnah melalui majalah Obor Rakyat itu telah dipidana.

Akan tetapi, masih tetap ada grup penduduk yang yakin dengan rumor itu. Jokowi masih tetap dipandang seperti anggota PKI.

Wakil Ketua Team Kampanye Nasional Joko Widodo-Maruf Amin, Arsul Sani di Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (21/10/2018).

Wakil Ketua Team Kampanye Nasional Joko Widodo-Maruf Amin, Arsul Sani di Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (21/10/2018).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN)

Tahun untuk tahun berlalu, sampai pilpres akan diselenggarakan kembali. Namun, rumor jika Jokowi ialah anggota PKI tidak ikut hilang.

Arsul menjelaskan, banyak pihak yang mengusung rumor itu di sejumlah daerah.

“Kami memang temukan di lapangan jika masih tetap ada yang masih sebarkan rumor itu dan ada fragmen pemilih spesifik yang masih tetap yakin,” tutur Arsul.

Pada akhirnya, Team Kampanye Nasional memberi pendapat pada Jokowi untuk menjawab desas-desus itu.

Arsul menjelaskan, Jokowi mesti mulai bicara supaya rumor ini tidak terus-terusan bergulir.

“Kami juga di TKN merekomendasikan pada Pak Jokowi supaya beliau menanggapi langsung masalah itu hingga penduduk dapat dengar dari tangan pertama,” tutur Arsul.
Buka-bukaan Jokowi

Awal mulanya, Jokowi buka-bukaan masalah rumor dianya PKI saat hadir beberapa acara di Propinsi Banten pada Sabtu (3/11/2018) sampai Minggu (4/11/2018).

Jokowi menjelaskan, berdasar pada hasil survey yang diterimanya, seputar 6 % responden yakin rumor Jokowi ialah PKI.

“Keliatannya memang hanya 6 %. Tetapi itu sama dengan 9 juta penduduk Indonesia. Ada banyak, kan, bermakna,” tutur Jokowi.

Jokowi menjelaskan sampai kini telah sabar melawan rumor anggota PKI.

Jadi, hampir saat empat tahun itu juga, dia pilih diam serta tidak mengambil pusing atas tuduhan itu.

Akan tetapi, mendekati Penentuan Presiden 2019, rumor itu bukannya mereda, tapi semakin kuat.

Menurutnya, sekarang ini ialah waktu yang pas untuk bikin klarifikasi dalam tiap-tiap peluang.

Jokowi minta klarifikasinya itu ikut disebarluaskan pada penduduk umum.

Dia menjelaskan, ada tiga keterangan yang bisa dikatakan pada penduduk.

Pertama, rumor itu tidak cocok nalar. Karena, lewat Ketentuan MPRS Nomer 25 Tahun 1966, negara akan memutuskan jadikan PKI menjadi organisasi terlarang di Indonesia.

Sesaat, Jokowi baru lahir tahun 1961. Berarti, waktu PKI dibubarkan, Jokowi baru berumur seputar 4 tahun.

“Masak ada PKI balita? Berikan demikian pada penduduk. Dari bagian asumsinya saja tidak dapat masuk,” tutur Jokowi.

Ke-2, tuduhan Jokowi PKI seringkali diimbangi dengan tampilkan gambar Ketua Umum PKI DN Aidit yang tengah berpidato.

Di samping tribune, terlihat figur yang begitu serupa dengan figur Jokowi.

Sesudah dicek, nyatanya photo itu waktu Aidit berpidato tahun 1955. Berarti, Jokowi belumlah lahir pada tahun itu.

“Siapa yang membuat gambar nakal semacam ini? Tetapi kok saya lihat-lihat, serupa saya. Nyatanya memang benar saya. Tetapi tahun begitu saya belumlah lahir. Ya kok bisa-bisanya masih tetap yakin begitu lho,” tutur Jokowi.

Baca Juga : KPK Dalami Peran Mantan Sekretaris MA Nurhadi Terkait Kasus Eddy Sindoro

Ke-3, kata Jokowi, rumor PKI bukan sekedar berembus buat dianya, tetapi ikut menimpa ke-2 orangtuanya.

Jokowi menyatakan, sekarang ini adalah masa keterbukaan. Seorang bisa dengan gampang mengecheck satu rumor benarkah atau bohong.

“Kunjungi saja masjid di dekat rumah saya, dekat rumah orang-tua saya. Bertanya, apakah benar? Begitu saja kok tidak dapat? Di Solo itu NU ada, Muhammadiyah ada, Persis ada, LDII ada, FPI ada, semua ada. Tanyakanlah saja ke mereka, apakah susahnya tho?” tutur Jokowi.