Korut Takut jika Perang dengan AS Meletus

Korut Takut jika Perang dengan AS Meletus

            PYONGYANG,  Korea Utara ( Korut) dikabarkan takut jika perang benar-benar terjadi antara mereka dengan Amerika Serikat ( AS).

Fakta tersebut diungkapkan oleh seorang pakar asal Rusia yang berbicara dengan pejabat luar negeri selama berkunjung ke Korut.

Dalam situs yang menyajikan kabar seputar Korut, 38North via Yonhap Kamis (11/1/2018), Alexander Vorontsov menyebut situasi di Pyongyang tengah tidak stabil.

Kondisi itu terjadi pasca-uji coba rudal balistik antar-benua (ICBM) terbaru Korut, Hwasong-15, 29 November 2017.

Rudal balistik tersebut diklaim mampu menempuh jarak 13.000 kilometer, dan menghancurkan daratan utama AS.

AS dan Korea Selatan (Korsel) kemudian menanggapi uji coba tersebut dengan menggelar latihan gabungan berkode “Vigilant Ace” 4-8 Desember 2017

Latihan tersebut melibatkan 230 jet tempur, dan 12.000 serdadu AS yang bermarkas di Korsel.

Vorontsov bercerita, pejabat kemenlu itu mengaku terkejut dengan adanya jet tempur dalam latihan gabungan AS-Korsel.

Dalam pandangan pejabat itu, pemerintahan Donald Trump benar-benar serius ingin mengobarkan perang di Semenanjung Korea.

“Hanya tinggal satu pertanyaan mengganjal: Kapankah perang bakal benar-benar meletus?” kata pejabat tersebut seperti ditulis oleh Vorontsov.

Baca Juga : PPP Minta Parpol Tak Tuding Polri Kriminalisasi jika Paslonnya Diproses Hukum

Kepala Institut Studi Oriental Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia itu melanjutkan, akibat ketakutan jika perang bakal terjadi, tentara Korut terus bersiaga.

“Mereka bahkan tidur dengan sepatu masih terpasang,” ujar Vorontsov mengutip pejabat tersebut.

Padahal, lanjut Vorontsov, para pejabat yang ada di Korut sama sekali tidak menginginkan perang dengan AS.

Lebih lanjut, pejabat tersebut berujar, Korut tetap berkomitmen untuk mencapai status sebagai “Negara Nuklir”.

Namun, predikat tersebut bukan merupakan bentuk provokasi terhadap Washington.

“Jujur saja, kami bahkan tidak tahu seperti apa definisi negara nuklir itu. Kami diplomat, bukan tentara,” tutur pejabat tersebut.

Melalui predikat itu, Korut berharap mereka bisa menggertak AS untuk duduk semeja, dan memulai dialog guna mencari solusi terkait isu nuklir.

“Diharapkan, jika AS dan Korut bertemu, Korut bisa menjelaskan dengan lebih gamblang apa yang sebenarnya mereka inginkan, dan bisa meraih konsensus,” kata Vorontsov.

Support by : kompas.com