Pedestrian Semarang Kian Cantik dan Bersih

Pedestrian Semarang Kian Cantik dan Bersih

          SEMARANG, Wajah Kota Semarang terus berubah. Kawasan-kawasan yang dulunya kumuh dan tidak tertata, kini dipoles menjadi bersih nan cantik.

Perubahan paling menyolok tampak di sepanjang pedestrian. Akses pejalan kaki diperbanyak. Akses penyandang disabilitas pun dibangun.

Untuk menambah kenyamanan bagi pejalan kaki, sejumlah bangku dipasang di tepi trotoar. Pedestarian pun menjadi tempat baru untuk berkumpul dan berswafoto bersama.

Di Jalan Imam Bonjol, Semarang, akses pejalan kaki diperlebar. Trotoar yang dulunya hanya selebar 1,5 meter dengan paving block ditambah hingga dua meter dengan lantai keramik. Sejumlah pernak-pernik seperti bola, bangku hingga taman vertikal berupa dinding hias berjejer di situ.

Baca Juga : FPI : Sejak Awal Habib Rizieq Ingin GNPF-MUI Bertemu Jokowi

Wajah pedestrian yang kian cantik juga bisa dijumpai di Jalan Piere Tendean, Jalan Kelud Raya, Jalan Taman Diponegoro, Jalan Watugunung IV Krapyak, Jalan Ronggolawe Gisikdrono, Jalan Pekunden Semarang, Jalan Siranda, Jalan Citarum Tengah, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Madukoro Raya.

Sejumlah wilayah juga dibenahi dengan program kampung tematik. Wajah kampung diubah dengan sentuhan seni. Di Kampung Rejomulyo 02/04, Kampung Gedawang Banyumanik RT 05/10 , Bugen Lor Bangetayu Pedurungan, Kampung Jawi Kalialang, serta Kampung Batik Semarang.

Warga yang kampungnya tak kebagian program kampung tematik juga tak tinggal diam. Mereka mempercantik kawasan tempat tinggalnya. Menata dan mewarnai tembok dengan cat aneka warna dilakukan secara swadaya. Pemandangan itu terlihat di Kampung Pemetesan, Jalan Pekojan, Semarang dan Kampung Batik Tengah RT 02 Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, perubahan wajah kota itu tak lepas dari komitmen untuk mempertahankan Piala Adipura yang diperoleh sejak 2012.

Semarang, kata Hendrar, serius menjalankan program gerakan ‘Semarang Obah.’ Gerakan itu untuk mengatasi vandalisme di sejumlah sarana publik. Masyarakat pun diajak untuk aktif menjaga keindahan wajah Kota Semarang.

“Kami bersyukur, tahun 2017 ini wajah Kota Semarang semakin bersih dan mulai menampakan perubahan yang nyata,” kata Hendrar.

Wali Kota mengapresiasi petugas kebersihan kota. Pada 2016, petugas penyapu jalan di Semarang berjumlah 364 personil.

Jumlah penyapu jalan itu dinilai belum cukup. Namun, peran para penyapu jalan amat penting untuk mengajak masyarakat menjaga kebersihan dan kecantikan kota.

“Itu mendorong pembangunan kultur kebersihan di masyarakat,” ungkap pria yang pernah dinobatkan sebagai Walikota Terbaik Dunia dalam ajang internasional, Socrates Award, di Itali pada tahun 2014 ini.

“Konsep saya adalah mengubah infrastruktur untuk merubah kultur. Jika tempatnya sudah ditata dan dibersihkan, masak iya enggak risih kalau buang sampah sembarangan,” ujarnya.

Support by : kompas.com