Pendukung Prabowo Laporkan Bupati Boyolali ke Bawaslu

JAKARTA – Bupati Boyolali Seno Samodro dilaporkan ke Tubuh Pengawas Pemilu ( Bawaslu) atas dakwaan keterpihakan Perangkat Sipil Negara (ASN) pada salah satunya pasangan capres serta wapres, hingga menguntungkan pihak itu sekaligus juga merugikan pihak yang lain.

Pelapor adalah Advokat Simpatisan Prabowo. Mereka menuding Seno tidak netral sebab sudah mengatakan pada penduduk Boyolali untuk tidak pilih Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pemilu 2019.

“Berkenaan karenanya ada pengerahan massa di Gedung Balai Sidang Mahesa yang berlangsung di Kabupaten Boyolali, yang disangka dikerjakan Bupati Boyolali, Seno Samodro, dengan mengatakan supaya tidak pilih bapak Prabowo dalam pemilihan presiden 2019,” kata kuasa hukum Advokat Simpatisan Prabowo, Hanfi Fajri di kantor Bawaslu, Jakarta Pusat, Senin (5/11/2018).

Diluar itu, Hanfi menuding Seno sudah melemparkan kalimat-kalimat yang mengejek Prabowo serta bernada provokatif, hingga bisa merugikan pasangan capres-cawapres nomer urut 2 itu.

“Menguntungkannya itu dengan pengakuan agar tidak milih Pak Prabowo. Nah itu begitu jelas ada keterpihakan,” tutur Hanfi.

Dalam laporannya, Hanfi membawa bukti berbentuk video tindakan memprotes masyarakat Boyolali, dan tangkapan monitor kabar berita tindakan itu.

Dia menyangka Seno Samodro sudah melanggar masalah 282 juncto masalah 386 juncto masalah 547 Undang-Undang nomer 7 tahun 2017 mengenai Pemilu. Pasal-pasal itu mengendalikan masalah netralitas ASN.

“Undang-Undang nomer 7 tahun 2017 masalah 282 (berbunyi) petinggi negara, petinggi struktural serta petinggi fungsional dalam jabatan negeri dan kades dilarang membuat ketetapan serta atau bertindak yang menguntungkan atau merugikan salah satunya peserta pemilu selama saat kampanye,” jelas Hanfi.

“Sedang di Undang-Undang ASN kepala daerah itu masuk kelompok petinggi negara,” sambungnya.

Awal mulanya, beberapa masyarakat Boyolali mengadakan tindakan memprotes masyarakat Boyolali pada pidato calon presiden nomer urut 02, Prabowo Subianto yang mengucap “tampang Boyolali”. Tindakan itu berjalan di Balai Sidang Mahesa Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (4/11/2018).

Masalah ini bermula dari viralnya video pidato Prabowo yang mengatakan arti “tampang Boyolali”.

Baca Juga : Pengembalian Uang ke KPK Terkait Kasus DPRD Sumut Capai Rp 7,6 Miliar

Awalannya, Prabowo mengulas penambahan kemampuan produksi sebab menurut data yang mereka terima, berlangsung penurunan kesejahteraan di desa.

Mengenai bunyi pidatonya seperti berikut:

“…Serta saya meyakini kalian tidak sempat masuk hotel-hotel itu, benar? (Benar, sahut hadirin yang berada di acara itu). Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini.”