Pilkada Serentak 2018, Polri Cermati Ancaman Hoaks yang Beredar

Pilkada Serentak 2018, Polri Cermati Ancaman Hoaks yang Beredar

JAKARTA, Wakapolri Komjen Syafruddin menyebutkan, Polri menyimpan perhatian spesial pada ancaman berita bohong atau hoax yang mengedar di Pilkada serentak 2018.

” Gosip hoax dapat berlangsung. Oleh karenanya Polri tidak cuma mempersiapkan pengamanan fisik saja. Tapi cyber patrol kita juga telah sediakan serta telah operasionalkan, ” kata Syafruddin di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Senin (8/1/2018).

Menurut Syafruddin, potensi hoax di Pilkada dapat begitu mungkin saja ditampilkan untuk menjatuhkan lawan atau kampanye hitam.

” Jadi gosip hoax itu dapat juga menyebabkan jadi hal yang tidak layak, tidak perlu, mungkin dimainkan di Pilkada, ” kata dia.

Terlebih kata dia, sekarang ini gosip hoax gampang digunakan untuk menggerakkan massa dalam jumlah yang besar.

Baca Juga : Jokowi Dijadwalkan Resmikan Bendungan Raknamo di NTT

” Saat ini sekali lagi jaman milenial, jaman now. Jadi itu butuh di perhatikan jadi konsentrasi kita. Isu-isu hoax mungkin menggerakkan massa, ” ucap Syafruddin.

” Anda ketahui di Tunisia mungkin saja goncangan besar itu karna diawali dari gosip hoax hingga dapat fatal untuk satu negara. Oleh karenanya semuanya saya imbau untuk mengantisipaai ini, ” tegas dia.

Tidak hanya itu, Polri kata Syafruddin juga mempersiapkan pasukan untuk menghadapi beberapa hal yg tidak dikehendaki berlangsung pada Pilkada, intinya di beberapa daerah yang riskan.

” Ada dinamika politik yang berlangsung. Tiap-tiap dinamika politik di situ kita juga akan antisipasi dari sisi kemampuan. Tapi hingga sekarang ini update-nya kondusif keadaannya, ” tutur dia.

” Tetapi kesiapan pasukan untuk pergeseran ke lokasi telah kita sediakan untuk hadapi masa sosialisasi kampanye Pilkada, ” lebih Syafruddin.

Syafruddin juga memberikan, beberapa daerah yang dipandang oleh Polri riskan pada Pilkada yang akan datang diantaranya, Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur, Papua, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.

” Mengapa sekian? karna dari segi pemilih yang demikian besar, selalu pasti kontestasi juga (riskan) juga akan resisten karna persaingan perebutan nada. Kan 45 % masyarakat Indonesia berada di Jawa, ” kata dia.

” Lalu Papua. Karna segi letak geografis serta segi beda yang dapat berlangsung disana. Sulawesi Selatan karna lihat pasangan yang juga akan berkontestasi politik. Sumatera Utara juga sekian cukup riskan karna dari segi kontestasi, ” terangnya.

Support by : kompas.com